Membeli kebun sawit yang sudah berbuah memang lebih cepat menghasilkan daripada membuka lahan dari nol. Tapi justru karena itu, kesalahan memilih kebun langsung terasa di kantong. Kebun yang kelihatan rimbun di foto belum tentu rajin berbuah.
Berikut hal-hal yang sebaiknya Anda periksa sendiri saat survei, disusun dari pertanyaan yang paling sering terlupa oleh pembeli pertama kali.
1. Datang sendiri, jangan hanya lihat foto
Foto dan video dari penjual biasanya diambil di bagian kebun yang paling bagus. Usahakan datang langsung dan jalan masuk sampai ke tengah dan ujung kebun. Lebih bagus lagi kalau Anda datang dua kali: sekali saat musim kemarau dan sekali setelah hujan deras, supaya kelihatan kondisi jalan dan genangan airnya.
Ajak orang yang paham sawit, misalnya petani atau mandor kebun di sekitar situ. Pengalaman mereka sering lebih berguna daripada brosur.
2. Cek umur tanaman dan asal bibit
Tanyakan tahun tanam dan cocokkan dengan kondisi pohon. Tanyakan juga dari mana bibitnya. Bibit bersertifikat dari produsen resmi umumnya lebih produktif dibanding bibit asalan yang dibeli dari pinggir jalan. Penjual yang jujur biasanya masih menyimpan nota atau label bibitnya.
Kebun yang umurnya sudah di atas 20 tahun bukan berarti buruk, tapi Anda perlu siap dengan biaya peremajaan beberapa tahun lagi. Hitungan harganya bisa Anda baca di panduan harga lahan sawit per hektar.
3. Lihat buahnya, bukan cuma daunnya
Perhatikan berapa banyak tandan yang menggantung di pohon dan seberapa besar ukurannya. Lihat juga bekas pelepah yang dipotong saat panen. Pohon yang jarang dipanen atau buahnya kecil-kecil bisa jadi tanda kurang pupuk atau bibitnya kurang baik.

Tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di pohon. Foto: Wagino 20100516 / Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0.
4. Minta bukti penjualan TBS
Ini yang paling penting. Minta nota timbangan atau bukti penjualan TBS ke RAM atau pabrik kelapa sawit (PKS) untuk beberapa bulan terakhir, idealnya setahun. Dari situ Anda bisa menghitung produksi rata-rata per hektar per bulan, lalu membandingkannya dengan cerita penjual.
Kalau penjual tidak punya catatan sama sekali, tanyakan ke RAM atau pengepul tempat kebun itu biasa menjual buah. Mereka sering masih mencatat setoran dari kebun tersebut.
5. Periksa akses jalan dan jarak ke pabrik
Truk pengangkut buah harus bisa masuk sampai ke kebun atau setidaknya ke titik kumpul terdekat. Perhatikan jembatan, tanjakan, dan bagian jalan yang becek. Tanyakan juga berapa ongkos angkut per kilogram ke RAM atau PKS terdekat, karena biaya ini memotong harga TBS yang Anda terima setiap kali panen.
6. Kenali jenis tanah dan risiko air
Kebun di tanah gambut butuh pengelolaan air yang baik dan lebih rawan terbakar saat kemarau panjang. Kebun di dataran rendah dekat sungai perlu dicek apakah sering banjir. Tanyakan ke warga sekitar kapan terakhir kebun itu tergenang dan berapa lama.
7. Waspadai hama dan penyakit
Coba perhatikan batang pohon dekat pangkal. Jamur Ganoderma yang menyebabkan busuk pangkal batang adalah salah satu penyakit yang paling ditakuti di kebun sawit, terutama di kebun tua atau bekas peremajaan. Tanda lainnya: daun muda yang tidak membuka atau banyak pohon yang tumbang. Kalau ragu, minta pendapat penyuluh pertanian atau petani berpengalaman di sekitar lokasi.
8. Tanyakan tenaga kerja dan biaya perawatan
Siapa yang selama ini memanen dan merawat kebun? Berapa upahnya, berapa kebutuhan pupuk per tahun? Kalau Anda tidak tinggal di dekat kebun, Anda butuh orang yang bisa dipercaya untuk mengurusnya. Banyak pembeli memilih melanjutkan kerja sama dengan pekerja lama yang sudah kenal kebunnya.
9. Lengkapi surat-suratnya
Untuk kebun rakyat, tanyakan juga apakah kebun sudah punya STDB (Surat Tanda Daftar Usaha Perkebunan untuk Budidaya) dari dinas perkebunan setempat. Selain itu, pastikan surat tanahnya aman dan lahannya di luar kawasan hutan. Langkah lengkapnya ada di panduan cek legalitas lahan sawit.
Daftar cek singkat sebelum membayar
- Sudah survei langsung, termasuk ke tengah dan ujung kebun
- Tahun tanam dan asal bibit jelas
- Ada bukti penjualan TBS beberapa bulan terakhir
- Jalan bisa dilewati truk saat musim hujan
- Tidak ada tanda serangan Ganoderma yang luas
- Surat tanah sudah dicek ke desa atau BPN dan lahan di luar kawasan hutan
- Harga per hektar masuk akal dibanding kebun serupa di sekitarnya
Kalau semua sudah tercentang, Anda bisa menawar dengan lebih percaya diri. Untuk mulai membandingkan, lihat kebun sawit yang sudah ditanami yang sedang dijual di LahanSawit.com.